Obyek Wisata

Jelajah Nusantara : Aceh

Menjelajahi seluruh bagian dari Nusantara adalah cita-cita besar saya sejak dulu. Saya termasuk beruntung sudah pernah menjejakkan kaki di beberapa daerah. Jawa, Sumatera, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Lombok. Nah masih ada kan daerah yang belum saya sebutkan.. 🙂 Yaa..Kalimantan, NTT, Papua, Maluku, dan bagian Sulawesi lainnya masih menunggu waktu 🙂

Semua daerah yang saya kunjungi kebanyakan sih dalam rangka urusan pekerjaan atau acara keluarga. Kalo urusan kerjaan enaknya sih ya yang membiayai perjalanan bukan saya pribadi alias ditanggung kantor. Setiap ke daerah tertentu saya pasti sempatkan mengunjungi tempat wisata yang menjadi ikon daerah tersebut. Juga tidak lupa membeli souvenir atau makanan khas. Semuanya saya lakukan diluar jam kerja kok..atau setelah semua urusan pekerjaan selesai.

Setiap daerah yang saya kunjungi punya kesan masing-masing. Dan mungkin karena saya termasuk yang selalu memandang segala sesuatunya dari sisi positive..maka kesannya bagus semua..hehehe. Apalah enaknya perjalanan kalo kita lihat hanya sisi negative nya saja..ye kannn…

Salah satu perjalanan saya menjelajah nusantara yang berkesan adalah saat berkunjung ke Bumi Rencong, Aceh. Udah lama banget sih..tapi hampir setiap detailnya masih membekas banget di ingatan saya sampai sekarang. Ya waktu itu masih bekerja di  lembaga non pemerintah bidang media penyiaran khususnya radio. Maka selama di Aceh saya datang ke radio-radio yang bekerjasama dengan lembaga tempat saya bekerja, diantaranya radio di Banda Aceh, di Bireun, Lhokseumawe, Pidie, dan Takengon.

Menyiapkan Perjalanan ke Aceh

Mendapat tugas di Aceh, bikin saya deg-degan. Meskipun sudah beberapa tahun setelah tsunami, tapi isu gerakan separatis masih lumayan berseliweran. Selain itu aturan mewajibkan perempuan muslim berjilbab juga membuat saya keder. Hahahaha ..kenapa gituh? Waktu itu saya memang belum berjilbab..baju hampir semuanya lengan pendek, celana ya panjang banyak sih..tapi ya gitu 😀 Jadi persiapan utama saya adalah mental dan pakaian muslim.. Mental untuk tidak perlu takut dan memastikan semua akan baik-baik saja. Pakaian muslim (baju lengan panjang dan kerudung) saya beli saat perjalanan dinas ke Jogja, beberapa hari sebelum jadwal ke Aceh tiba 😀

Persiapan yang terkait pekerjaan Alhamdulillah selalu siap siaga, mulai alat rekam  hingga materi liputan sesuai pengajuan radio lokal. Jadi sebelum turun ke lokasi..saya sudah punya gambaran bakal kemana aja selama di daerah. Menyempatkan wisata..hmmm..saya blank juga sih waktu itu mau kemana selama di Aceh..padahal lumayan..sekali trip waktunya sekitar 10-14 hari. Hari libur tetap dihitung hari kerja. Hanya ada referensi teman-teman tentang apa saja yang must try selama di Aceh. Misalnya Sate Mattang di daerah Mattang Geulumpang,  diantara Bireun – Lhokseumawe. Udah..selebihnya sih..menurut saya bisa ditanyakan aja sama temen-temen di Aceh nanti.

Saya juga tak perlu pusing mikir tiket, karena semua perjalanan di lembaga yang berkantor pusat di Arcatta Amerika Serikat ini mewajibkan karyawannya memakai maskapai penerbangan milik pemerintah. Jadi ya.. tiket pesawat Garuda Indonesia untuk perjalanan saya sepenuhnya diurus oleh admin kantor. Saya tinggal pake aja. Begitu pun urusan penginapan.

Selamat Datang di Bumi Rencong

Perjalanan dengan menggunakan maskapai terbaik di Indonesia dari Jakarta ke Aceh tentu tidak membuat saya khawatir apapun. Terjamin lah ya.. Yang saya khawatirkan bagaimana nanti selama di Aceh..hahaha..masih deg-degan ajah..Inikah namanya cinta ? Glodakkk Tapi saya tetap positive thinking sih..kalo segala sesuatunya akan berjalan baik..dan pekerjaan selesai tuntas..dan Aceh pasti berkesan baik.

Deg-degan masih terus terasa saat transit di Medan selama beberapa menit. Gak banyak sih yang saya bisa nikmati saat transit. Karena waktunya memang sebentar banget..baru duduk..udah disuruh naik lagi ke pesawat 😀 Penerbangan lanjutan dari Medan ke Banda Aceh hanya sekitar 30 menit saja.

Saat menjelang mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda.. wahhh saya bener-bener terpukau melihat pemandangan di bawah sana..bukit-bukit yang hijau menghampar..Kelihatan banget masih belum terjamah tangan manusia..Indah! Belum puas melihat pemandangan di bawah sana..petugas mengingtakan untuk bersiap mendarat. Hohoho…udah mau nyampe aja…

Alhamdulillah ..mendarat selamat dalam kondisi cuaca yang cerah.. Di sekeliling bandara yang saya amati ya..dimana-mana bukit. Saya sukaaaa pemandangan seperti itu. Tapi saya harus bergegas mencari taksi untuk menuju ke penginapan. Sepanjang perjalanan dari bandara ke tempat saya menginap, saya pun tak membiarkan mata sekejap pun berkedip 😀  hahaha saking terpesonanya dengan Aceh. Oya..sejak dari Jakarta saya sudah pake kerudung donk…meski Cuma diselempangin.. 🙂

Banda Aceh – Bireun – Takengon – Pulau Nasi – Hingga Pulau Weh

Pemandangan di sekitar kota Banda Aceh membuat saya takjub. Ada suasana yang berbeda saat itu. Mobil-mobil double cabin berseliweran..nyaris mendominasi. Itu mobil-mobil milik NGO yang memang masih terus aktif ikut membangun Aceh pasca tsunami. Selain itu saya juga melihat hampir semua tempat makan dan warung menyediakan kursi diluar resto..ya di trotoar, di teras resto..Kebanyakan orang-orang juga memilih duduk diluar daripada di dalam resto.  Mau siang  ato malam..situasinya begitu. Pemandangan yang unik karena di Jawa bahkan Madura tempat saya tinggal gak begitu 😀

Pemandangan seperti itu bukan Cuma di Banda Aceh rupanya. Sepanjang perjalanan dari Bireun sampai Lhokseumawe umumnya begitu. Well menurut teman, hal seperti itu adalah bentuk ungkapan kegembiraan warga yang bisa menikmati kebebasan..tanpa suara tembakan. Kondisi damai begitu memang baru dirasakan warga Aceh pasca tsunami dan kesepakatan damai antara RI dan GAM di Helsinki Agustus 2015. Ikut seneng deh lihatnya..Kata temen itu juga…sebelum ada perjanjian damai..yang ada hanya rasa takut. Apalagi selepas magrib..Jangankan nongkrong sambil makan dan minum..keluar rumah aja gak berani. Alhamdulillah saya bisa sampe di Aceh disaat situasinya sudah enak banget.

Selama di Bireun saya tidak banyak kelayapan. Ya ke radio..hotel..radio hotel.. Sesekali menikmati makanan khas yang saya suka di Bireun (di Banda Aceh pun banyak sebenarnya) kerang rebus..Kerang rebus digadoin..dicocol sambel..Enaaakk. Minumnya..jus terong belanda..duhh segeerrr  banget.

Selama di Bireun saya sempatkan ke Lhokseumawe dan mampir di Sate Mattang Geulumpang yang direkomendasi teman kantor.  Sate yang memang unik penyajiannya. Sementara saat di Lhokseumawe karena saya kesananya malam..ya udah..gak banyak yang bisa dilihat kecuali kawasan Arun yang gemerlap. Mirip-mirip dengan kalo kita lewat PLTU Paiton-Probolinggo Jawa Timur..hhehe

Kesan mendalam saya rasakan saat saya dan teman-teman ke Danau Laut Tawar di Takengon. Perjalanan darat dari Bireun ke Takengon butuh waktu sekitar 2-3 jam. Waktu itu masih sepi dan jalannya juga sempit. Jarang banget menemukan perkampungan. Sekalinya ketemu..namanya unik..Ada daerah Timang Gajah..ada juga Bener Meriah 😀 Tapi gak meriah beneran..karena masih banyak hutan hehe..

Di Danau Laut Tawar Takengon

Kota Takengon ademmm banget..dikelilingi bukit yang ditumbuhi rerumputan dan pinus..Ciri khas dataran tinggi..dan serasa ada di Ranu Kumbolo sayaa… 😀 Setelah menyelesaikan tugas..saya langsung bergegas meluncur ke Danau Laut tawar. Sebuah danau yang luas di wilayah Kota Takengon.  Indah banget. Saat ke Danau Laut Tawar bisa mampir ke Gua Putri..Gua yang tida terlalu dalam..paling 5-10 meteran dari mulut gua, terdapat bentukan batu mirip manusia. Kabarnya itu adalah jelmaan Putri Pukes yang dikutuk. Wah..wah..unik juga ya..legenda di sekitar Danau Laut tawar ini. Selain berkeliling danau dan mampir ke Gua Putri, saya juga menyempatkan mencoba makanan khas yang bisa dinikmati di sekitar danau, yaitu olahan ikan air tawar yang berasal dari danau. Endesss…

Selain ke wilayah timur dan tengah Aceh..saya juga berkesempatan menjelajah beberapa pulau di Aceh. Pulau Nasi dan Pulau Weh. Pulau Nasi hanya 1 jam dari Banda Aceh dengan perahu motor. Makanya..dibilang pulau Nasi..karena cukup bawa nasi aja bekelnya.. Kalo ke pulau beras..karena jauh..jadi kudu bawa beras…kalo bawa nasi pasti basi…hehehe Begitulah makna nama pulau Nasi dan Pulau Beras menurut teman saya.

Semalam di Pulau Nasi saya menikmati suasana pedesaan yang sangat alami. Tidur di rumah kayu Keucik dan mandi dengan MCK alakadarnya. Saya sempat melihat sarana pendidikan di pulau tersebut..karena memang teman-teman radio akan meliput tentang hal itu. Selesai tugas..seperti biasa..saya menikmati keindahan alam pulau Nasi. Di pinggir pantai yang ombaknya tenang…Indah .

Pantai di Pulau Nasi Aceh

Selain pulau Nasi..saya juga mengunjungi Pulau Weh..sekitar 2 jam dengan  kapal cepat dari Banda Aceh.  Pulau Weh memang elok. Selain pemandangan alamnya yang unik berbukit-bukit…pemandangan bawah lautnya juga kece.Tapi karena keterbatasan waktu..saya tidak sempat mampir ke obyek wisata tersebut. Jadi saya hanya sempatkan mampir ke Tugu Titik Nol Indonesia. Alhamdulillah. Waktu itu tugunya masih belum terawat seperti sekarang. Pengunjung sedikit banget..hanya 1-2 orang aja. Jadi saya gak terlalu lama di tugu tersebut..hanya berfoto seperlunya..melihat sekeliling sebentar..langsung balik. Sebelum ke pelabuhan lagi untuk ikut penyebrangan kami sempat mampir  ke daerah kota Sabang, di pinggir pantai juga. Baru kemudian ke pelabuhan untuk kembali ke Banda Aceh hari itu juga.

Di perjalanan menuju Tugu Titik Nol bersama kawan dari Radio di Aceh

Waahhh senangnya tugas saya selesai selama di Aceh…Setiap kuliner yang pernah saya icipi di Aceh..masih kebayang-bayang rasanya..Es Rujak yang pake es batu dan sirop…Mie Aceh aseli Aceh yang nikmatnya tiada tara…makanan seafood… Dan kopiiiiii…yaaa…kopi di Cik Yu Ke (UK = Ulee Kareung) rasanya berkesan  banget.. 🙂

Ahhhh sungguh menceritakan semua ini bikin saya pengen banget ke Aceh lagi. Apalagi pake maskapai yang sama ..Garuda Indonesia..huhuhu… Untuk tiket pesawat Garuda Indonesia..baiknya pilih-pilih di Skyscanner deh kayaknya…

 

Karena banyak pilihan euy untuk rute ke Banda Aceh  dari Surabaya. Kalo dari Sumenep saya masih belum pas dengan jadwal pemberangkatannya. Pilihan maskapai, jam keberangkatan, dan harga tiketnya bersaing banget deh.  Apalagi kalo sekalian dengan pesen penginapan dan kendaraan yang bakal disewa selama disana..Makin mudah aja perjalanan saya nantinya yaa… 😉

So..kamu kapan mau kemana…cari tiketnya di Skyscanner juga yaaa..;)

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *