Event

Bincang Budaya Jelang Festival Keraton Nusantara Sumenep

Festival Keraton Nusantara dan Masyarakat Adat Asean Ke-5 di Sumenep udah di depan mata nih. Tanggal 27-31 Oktober 2018 raja-raja dari berbagai keraton di Indonesia dan ASEAN bakal ngumpul di Sumenep.

Sumenep sendiri merupakan satu-satunya bekas kerajaan di Jawa Timur yang wujud keratonnya masih utuh. Wujud benteng, taman sari, pendopo, dan bangunan lainnya masih bisa kita lihat. Sebagian Keraton Sumenep sekarang menjadi Museum Keraton dan Museum Pusaka, sebagian lagi digunakan untuk rumah dinas bupati. Bagian pendopo juga masih aktif digunakan untuk acara-acara penting.

Untuk budaya dan tradisi, meski mungkin tak seketat di Jogja dan Solo, masih banyak sekali adat tradisi yang lestari hingga kini. Karapan Sapi, Sapi Sonok, Kerapan Sapi Binik di Gili Raja,Tari Topeng Gettak, Upacara Nyader di kecamatan Saronggi,  adalah sebagian adat tradisi yang masih bertahan dan diminati masyarakat.

Saya pun masih tertarik mengikuti berbagai acara yang berhubungan dengan adat dan tradisi Sumenep. Apalagi kalo ada acara macam Festival Keraton. Saya jadi inget beberapa tahun lalu, ya.. sekitar tahun 2003-2004 saat masih aktif di Radio Karimata Pamekasan.

Waktu itu saya ikut pelatihan liputan musik etnik di Jogja. Kurang lebih 10 hari saya dan teman-teman belajar meliput musik etnik yang ada di arena Festival Keraton Nusantara.Saya terpukau banget dengan aneka seni tradisi keraton. Dan ternyata.. Festival Keraton sekarang ada di daerah saya. Siap-siap dejavu 😍

Untuk membuat dunia tahu bahwa ada acara FKMA kita bisa ambil bagian nih.. Sebagai blogger ya saya berbagi tentang acara tersebut. Lewat Instagram, Twitter, Youtube, Facebook, dan tentu saja blog.

Mengkampanyekan sebuah event lewat media sosial sekarang bisa jadi ujung tombak loh. Karena lebih dari 50% penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial. Iti ada datanya loh.. Dipaparkan oleh Ibu Sovi dari Dinas Kominfo Jatim dalam Bincang Budaya di Hotel C1 Sumenep. Dalam acara ini hadir juga D. Zawawi Imron (budayawan) dan Mira Sahid (ehm… masa gak kenal.. ama doski..) 😉

Sebagian besar pengguna medsos (termasuk saya) mengakses media sosial tersebut lewat ponsel 😊

Urusan menulis budaya kadang gak bisa simple dan harus berhati-hati. Apalagi kalo ada hubungannya dengan sejarah.Maka diperlukan riset dan prinsip kehati-hatian dalam menulis. No copy paste.. tapi kalo berhubungan dengan sumber yang penting bisa saja dengan tak lupa mencantumkan sumbernya.

Tips menulis seperti itu juga disampaikan Mira Sahid, teman jalan saat event Menduniakan Madura 2016 lalu. Mira juga banyak bercerita tentang hal-hal seputar blogging. Ya.. biar blognya menarik.. orang gak bosen bacanya.. 😊

Bincang Budaya Sumenep (dok. panitia)

Kalo bapak D. Zawawi Imron seperti biasa ya.. saya selalu terpesona dengan kalimat puitisnya yang tak sedikit memakai bahasa Madura. Saya banyak belajar tentang pantun sederhana berbahasa Madura. Dalam Bincang Budaya ini, bapak Zawawi lebih banyak mengingatkan tentang pentingnya sopan santun. Budaya no violence communication sangat penting, termasuk dalam media sosial. Jangan sampai yang kita sampaikan di medsos menyakiti pembaca. Baik pak.. saya pun setuju…

Apa yang disampaikan para nara sumber dalam acara ini menurut saya penting banget nih buat bekal meliput event spektakuler Festival Keraton Nusantara dan Masyarakat Adat ASEAN. Kalian yang pengen tahu gemana serunya Festival ini yuukk dateng.. tanggal 27-31 Oktober 2018. Raja-raja se Nusantara dan Asean aja ke Sumenep masa kamu nggak? 😉

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *