Cerita Perjalanan

Pengalaman Tersesat Saat Pendakian

Tersesat Saat Pendakian

Sebenarnya sudah lama pengen banget menulis tentang pengalaman saat mendaki gunung, tapi entahlah…mungkin terlalu banyak yang bakal saya ceritakan kalau tentang asiknya mendaki. Jadi gemana kalau saya tuliskan tentang gak enaknya?hehehe… Salah satunya nih pengalaman saya tersesat saat pendakian..

Ihhh emang pernah naik gunung?Pernah donkk…ya jaman kuliah dulu…Mungkin waktu saya di bangku kuliah banyakan waktu di gunung.. Aktif-aktifnya ya sekitar 1-3 tahun pertama deh…Ya kalo udah tahun ketiga kan mulai persiapan PKL, KKN, dan skripsi ya…

Jadi..tersesatnya di gunung apa nih?Pengalaman ini saya ingat betul…Waktu itu saya naik gunung Argopuro melalui jalur Baderan. Kalau melalui jalur ini, tanjakannya gak terlalu ekstrim…tappiii panjangggg book.  Dengan berjalan santai aja , bisa seharian tuh nanjak terus. Nah turun di Bremi..jalannya cukup ekstrim, tapi memang relative pendek..2-3 jam an saja selesai.

Seperti pada pendakian umumnya…tersesat rentan terjadi justru pada saat turun atau pulang. Kalau menurut saya sih ada beberapa penyebab, diantaranya saat turun kita lengah dan tidak fokus pada jalur, saking senangnya sudah mencapai puncak..saat turun jadi gak konsetrasi pada jalur lagi. Saat turun, cenderung jalannya lebih cepat..sampai gak sadar terpisah dari rombongan..jadi ketika salah jalur..ya gak ada yang bisa mengingatkan.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat tersesat di Gunung Argopuro. Saya bersama 4 orang teman sudah menyelesaikan pendakian, dan bergerak turun menuju desa Bremi. Setelah Taman Hidup (salah satu lokasi favorit pendakian Argopuro, berupa danau yang cukup luas) jalan cenderung turun terus sampai desa.

Saat saya berjalan turun..jalannya cepat..dan saya lebih banyak menunduk melihat jalan. Entahlah karena blank atau apa…saya tidak sadar kalau sudah salah jalur. Tiba-tiba saja saya merasakan kok saya sendirian ya…Bermaksud mengejar teman di depan saya kok gak ketemu-ketemu..Sementara di belakang tak nampak juga teman saya lainnya..

Saat memasuki hutan homogen ..saya semakin merasakan kalau saya sudah tidak di jalur yang seharusnya, meskipun jalan yang saya lalui termasuk jelas itu biasa dilewati orang. Menjelang keluar hutan homogen yang berbatasan dengan kebun kopi, saya berpikir untuk menunggu teman di belakang saya lewat. Ya udah..saya duduk aja di tanah. Sendirian..

1-2 jam gak ada tanda-tanda teman muncul..warga pun tak ada yang lewat jalur itu. Saya masih bertahan sampai menjelang sore. Lah kok belum ada tanda-tanda juga..bahkan suara teman-teman pun gak terdengar sama sekali. Sunyi.

Akhirnya saya benar-benar yakin kalau saya yang tersesat dan berada di jalur yang salah. Dengan sedikit keberanian..saya melanjutkan perjalanan memasuki kebun kopi. Berjalan secepat-cepatnya sampai menemukan rumah warga. Karena saya meyakini jalan utama desa Bremi berada di sisi kiri dari tempat saya berjalan, saya berusaha untuk menemukan jalur ke arah kiri. Lumayan loh..ada kali 1 jam saya jalan berusaha keluar dari kebun kopi dan menemukan rumah warga.

Ohiya…jaman segitu ya…gak bawa HP buat lihat posisi kita dimana lah ya …Peta dan kompas gak bawa juga karena memang perjalanannya tanpa pematerian navigasi darat.

Alhamdulillah akhirnya saya menemukan jalan kampung yang pernah saya lalui saat pendakian sebelumnya (start dari Bremi). Saya tinggal ikuti saja sampai bertemu teman-teman. Bener aja kalau saya memang salah jalan alias tersesat..Teman-teman yang saya temui mengira saya udah sampe duluan dan pergi ke warung yang agak jauh dari titik kumpul. Huhuhu…padahal ya…saya nungguin mereka..gak lewat-lewat…

Saya bersyukur aja meskipun sempat tersesat, saya masih bisa menemukan jalan yang benar, di waktu yang juga tepat. Gak kebayang kan kalau saya masih nungguin teman di perbatasan hutan sampai waktu malam…

Tersesat Saat Pendakian

Dari pengalaman tersebut, saya sendiri membuat catatan…biar gak kejadian lagi tersesat seperti itu. Ya meskipun saya gak tahu kapan naik gunung lagi.. πŸ˜€ Nih ya catatan saya :

  • Jalan saat turun dari pendakian harus tetap ekstra hati-hati meskipun jalurnya landai.
  • Pastikan tidak terpisah dari teman/rombongan..caranya ya harus sering ngecek dengan teman di depan..teman di belakang…masih pada kelihatan gak. Kalau saya di depan, ya harus sering-sering menoleh ke belakang untuk memastikan masih bisa melihat teman di bekakang saya atau nggak. Jangan sampai gak kelihatan temen deh… πŸ˜€ Kalaupun teman yang di belakang kita lebih lambat jalannya, ya harus sabar… Kadang itulah ujian perjalanan naik gunung.
  • Kalau saya yang di belakang teman-teman, saya harus menjaga jarak terus biar tetap bersama. Jangan ragu untuk meminta teman kita menunggu kita, misalnya karena jalan si teman lebih cepat. Meskipun jalur yang kita lalui cukup jelas terlihat.
  • Mengajak teman berbicara bisa jadi mencegah kita tersesat juga…Karena kan dengan bicara kita mau gak mau harus saling berdekatan.. Meskipun ya…berjalan sambil ngomong tuh lumayan nambah ngos-ngosan.

Nah kalo udah terlanjur tersesat gemana? Yang paling utama sih jangan panic. Tandai setiap beberapa meter kalau kita memutuskan untuk terus bergerak (bisa menggunakan tali raffia yang diikat seperti pita di ranting-ranting pohon yang kita lalui, atau bisa memakai bahan alam lainnya, yang penting fungsinya). Ini penting buat jaga-jaga seandainya kita dicari, kita sudah membuat jejak. Β Atau seandainya kita akan kembali ke titik awal, kita juga masih bisa memanfaatkan jejak yang kita buat.

Begitu sadar kita tersesat, kalau menurut saya sih hindari untuk bergerak terlalu jauh. Ini untuk memudahkan orang yang mencari kita. Dalam kondisi tenang..perhatikan tanda alam..misal arah matahari, suara perkampungan kalau memang sudah dekat, atau kalau memang memungkinkan naik ke pohon untk bisa melihat sekitar. Meskipun kadang ada saja ya kejadian yang ‘menipu’ kita saat mendaki. Contohnya seolah-olah mendengar panggilan teman kita…seolah-olah mendengar suara dari perkampungan padahal bukan..Nah untuk menghindari hal itu ya gak ada lain pasrahkan sama Yang Maha Pencipta..alias banyak-banyak berdoa. Ohiya..ini untuk kasus kita gak bawa HP atau alat komunikasi apapun ya..atau kalaupun bawa kondisinya habis batre atau sinyal blank.

Hal yang penting juga…kalau saya sih menghindari banget pergerakan di malam hari. Kecuali memang terpaksa banget, dan kondisi jalur sudah sangat konvensional sehingga areanya mudah dikenali. Saat cuaca buruk, saya juga hindari untuk melanjutkan perjalanan.

Kalau jaman sekarang mungkin sudah ada HP atau GPS yang bisa memudahkan pergerakan atau membantu pendaki ke jalan yang benar. Tapi tetep ya…diperlukan kemampuan dasar untuk mengatasi hal-hal yang tak terduga (tersesat) saat mendaki.

Semoga pengalaman saya ini berguna ya…. Keep inspiring..keep exploring..

42 thoughts on “Pengalaman Tersesat Saat Pendakian”

  1. Belum pernah ke gunung ini, pengen juga ke gunung Bromo dan Prau. Baru ke gunung Papandayan saja, sama curug Lawe dan Benowo juga curug Orok heu. Panik ya mbak kalau tersesat gitu, ingat Alloh untuk minta petunjuk arah pulang biar selamat ya jadinya.

  2. Duh, aku membayangkan sendiri jika kesesat takutt mbak, huhuu. etapi nggak pernah ndaki gunung sih, Sekali aja keknya itutapi ya gitu nggak berani duluan, paling nggak bareng sama temen 1-2-3 orang, walau aatu rombongan ada beberapa orang hehee.
    Terima kasih untuk sharing pengalamannya, Mak

  3. Hi Mba,

    Serem juga ya tersesat gitu. Waktu itu hanya trekking ya? Bukan menginap di atas? Belum pernah coba sih tapi semoga ngga sampai tersesat. Pengalaman yang seru ya ^^

  4. Serreem ya. Itu tuh yang dulu suka dibilangin ibuku kalau aku izin mau ikut naik gunung ama temen2. Dibilangin nggak usah, nanti tersesat nggak bisa pulang. Alhasil, sampai setua ini aku blom pernah naik gunung. hiks hiks. Padahal pengin

  5. Astaghfirullahaalaziiim aku deg degan bacanya! Aku nyaris dulu pernah tersesat tapi Alhamdulillaaaah pas udah mau masuk ke dalam jalur yang ga on track, ada teman senior yang berjalan pelan karena kakinya sakit. Dia memanggil manggil. Saya bener bener ga sadar kok waktu itu memasuki area yang out of track. Perasaan masih di jalur bener dan perasaan juga masih banyak temen di depan…

    Seandainya tu teman saya ga ketinggalan, saya pasti bener bener sendiri… Hiks hiks.. dan memang bener, mendingan ngobrol deh sepanjang jalan buat menandai bahwa teman teman kita dekat.

    Salut buat dirimu yang ga panik

  6. huwaaa tersesat di hutan, ampun aku… belum pernah mendaki jadi ga ngerti ternyata titik lemah rawan nyasar justru saat pulang, ya.
    untunglah mbak pemberani dan inget arah. Kalau aku teriak-teriak panik.

  7. Aku malah baru mulai naik gunung setelah kuliah. Di kampus malah nggak ketemu temen yang suka naik gunung haha. Nggak kebayang gimana seremnya tersesat di tengah gunung. Nggak ada sinyal, nggak ada Maps, dengan ancaman binatang buas. Puji Tuhan aku belum pernah tersesat selama di gunung.

  8. Alhamdulillah akhirnya bisa menemui jalan kembali ya, Mbak.

    Dari pengalaman saya mendaki Gunung Ciremai, memang jalan turun untuk pulang malah cenderung banyak yang tersesat. Jalan menurun hingga tergesa-gesa jalannya.
    Pernah suatu tempat di Gunung Ciremai saya dan rombongan berhenti di jalan cagak, ada rombongan yang turun. Dua orang yang duluan turun ngambil jalan ke kiri, padahal seharusnya ke kanan. Untung masih dilihat oleh teman-teman di belakangnya, dan diteriakin. Akhirnya naik lagi sedikit trus ambil jalan ke kanan.
    Sebenarnya gak salah ambil jalan ke kiri, tapi jadinya nanti melalui jalur ke Majalengka, sedangkan titik awal pendakian mereka di Kuningan. Nah jauh kan…hehehe

  9. Waaah ternyata pernah naik Argopuro juga Mbak. Duh aku mau ke sana nggak jadi-jadi mulu cuma pengen doang. Dari dulu nggak dapat waktu karena jalur panjang. Eh taunya sekarang katanya bisa naik ojek ke sana.

    Btw saya juga pernah nyasar di Gunung Cikuray dan saat itu sampai semalaman. Sudah heboh di kampung kalau saya hilang di gunung. Kalau penasaran ceritanya googling aja tulisan tersesat di Gunung Cikuray, kayaknya masih nyangkut di page 1 google.

  10. Alhamdulillah mak. Aku orang paling cemen naik gunung πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ga pernah berani. Beranipun itu dah lama dan aku riwil banget kayaknya sama teman2ku wkwkw.

    Apalagi kalau ngalami kayak dirimu nangis trauma keknya aku huaaaaa

  11. Pengalaman yang tak terlupakan ya mbak, jujur kalau saya sendiri belum pernah naik gunung. Bahkan diajak beberapa teman jaman belum nikah masih belum kebayang waktu itu, hahahahaa… Padahal sekarang lihat teman-teman yang pada naik gunung bikin iri pemandangannya.

  12. Yaa giniii ini, kak Di…yang bikin aku merinding untuk mendaki gunung.
    Dasarnya emang karena pas gadis dulu sering dilarang Ibu-Bapak untuk ikutan kegiatan alam.
    Jadi kurang peka dan merasa ketakutan kalau ada kegiatan di alam.
    Parno banget…
    Gocik, kalo kata Bapakku.

  13. Duh horor mak kalau terpisah rombongan dna tersesat. Mitos2nya jg di gunung tu ada yang sengaja bikin tersesat hehe. Iya ya, mending ajakin ngobrol temen pas jalan, pokoknya gmn caranya biar gak tersesat sendirian. Untung ya bisa nemu jalan balik ke kampung πŸ˜€

  14. Duh aku tuh kalau sudah omongin tersesat di saat mendaki sudah parno duluan
    Soalnya pernah diinfo bahwa sejatinya di gunung itu butuh bener bener banyak memasrahkan diri, bukan malah sebaliknya

  15. Saya juga pernah terpisah dari rombongan, saat turun dari puncak Lawu. Rasanya lamaaa banget nunggu sampai ketemu teman-teman serombongan lagi. Syarat utamanya, jangan panik ya mbak kalau terpisah gitu

  16. duh serem banget mbak, saya bacanya sambil deg degan. Saya jadi bayangin kalau sampai malam, huhuhu. Makasih udah sharing pengalaman mbak, meskipun saya enggak akan naik gunung. Terlalu banyak pikiran negatif sehingga saya enggak pernah mau naik gunung, wkwkwk.
    —bundadzakiyyah[dot]com—

  17. Aku kok dari mulai baca judul sampe ngikutin cerita jadi deg2an sendiri πŸ™ soalnya denger cerita kalau ada pendaki yang tersesat kadang ngga balik lagi. Tapi Alhamdulillah mba masih bisa selamat. That’s way, aku klo diajakin naik gunung suka ngeri duluan

  18. Duh seram bacanya hehe ngga kebayang kalau harus menginap semalaman di gunung sendirian..memang ngga boleh Meleng dan kudu tetap fokus ya kalau di atas gunung..bahaya..

  19. Wew…aku mah bukan anak gunung hahaha πŸ˜€ Ngeri ikutan beginian mah. Kalau soal jalan atau mendakinya mungkin bisa. Tapi mikir mandi dan BAK dan BAB nya itu loh wkwkwkw ampyuun dah. Paling banter main2 ke Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Bromo hihihi. Adikku tuh yang pencinta alam UI yang udah ke mana2 gunung2 di Indonesia dan pernah mampir di kaki Gunung Everest. Aku salut deh sama mbak πŸ˜€

  20. Saya oernah nih kayak begini. Untungnya ketemu warga lokal dan dianterin kembali ke titik awal. Kalau sampe nggak ketemu itu warga, nggak tahu deh nasib saya sekarang gimana.

    Trus kalau saran tambahan dari saya, kalau mau mendaki, pasang semacam lonceng di tas, jadi tiap jalan itu bunyi. Ya memang agak berisik sih, tapi jadinya orang lain sadar akan keberadaan kita.

    Terima kasih sudah berbagi pengalaman serunya πŸ™‚

  21. Apa jadinya kalau saya yang tersesat saat mendaki gini? Haduh … Syukurlah bisa tetap fokus sampai nemu jalan keuar. Iya, kalau mendaki barengan saya enggak mau jauh dari rombongan, hehe …

  22. Pengalaman yang berharga banget ya mbak.

    Nggak kebayang deh aku kalo tersesat di gunung. Tapi dari pengalaman mbak dan temen-temen lain yang pernah, intinya harus tenang dan berpikir logis.

    Thank you for sharing mbak.

  23. Duh aku deg-degan bacanya
    Memang ya kalau pas di gunung itu harus saling menjaga satu sama lain
    Jangan sampai terpisah dari rombongan deh
    Untung dirimu gak panikan ya mbak
    Kalau aku, udah nagis aja tuh kayaknya huhuhu

  24. Pengalaman yang sangat berharga ya… Alhamdulillah bisa melaluinya dengan baik. Selamat.
    Kalau saya, wah pasti sudah bingung, hehehe…

    Karena itu kalau mendaki, saya gak pernah jauh dari yg lain. Kalau cape, saya bilang aja minta ditunguin.

    Terus sekarang kalau kita berangkat agak banyak, dibuat team. Depan, tengah dan belakang. Masing masing untuk memastikan peserta rombongan baik baik saja.

    Mohon doanya, Minggu besok setelah lebaran kami akan naik Kerinci…

  25. Wah pasti bakal panik banget kalo udah kepisah dari rombongan. Bener kak, yang namanaya tim harus tetap sama-sama dalam keadaan apapun, apalagi kalo ngajak yang pemula musti sabar dan jangan pernah lost contact

  26. Waduh…kalau tersesat gitu, sendirian…gimana kalau kebelet yah? Tambah ngeri aku sih. Tapi gimana, kalau desakan alam. Huehue…
    Alhamdulillah bisa ketemu lagi ama temanΒ². Banyak cerita anehΒ² kalau tersesat…

  27. Alhamdulillah, bisa kembali ke jalan yg benar (eh, semacam frase benar, tp kesannya begitu lah ^^).

    Ikutan sharing sedikit, kalau di Rinjani, jalur yg rawan nyasar yg dari pintu pendakian desa Sembalun.
    Sama landainya dengan sharing mbak di atas, plus banyak jalur sapi yang harus bikin ekstra fokus.

    Salam lestari dari Lombok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *