Budaya Obyek Wisata

Mengenal Cagar Budaya Indonesia yang Berada di Sumenep

Sumenep adalah salah satu daerah yang istimewa, setidaknya bagi saya dan ribuan warganya. Letaknya memang jauh dari ibu kota propinsi Jawa Timur, Surabaya. Dibutuhkan 4-5 jam perjalanan darat dari Surabaya. Tapi banyak hal istimewa yang bisa kita temui ketika berada di Sumenep, termasuk cagar budayanya yang menjadi bagian penting dari cagar budaya Indonesia.

Sekilas Tentang Sumenep

Sekilas dulu ya tentang Sumenep yang 31 Oktober 2019 memperingati hari jadinya yang ke 750 tahun. Kata Sumenep berasal dari Asong dan Ngenep, asong artinya cekungan dan ngenep adalah lumpur. Kata-kata ini sesuai dengan kondisi geografis Sumenep yang menyerupai cekungan.  Ada juga yang menyebutkan bahwa Sumenep artinya wilayah yang letaknya jauh sehingga orang yang berkunjung harus menginap.

Sumenep didirikan pada tahun 1269 sebagai kadipaten dan Arya Wiraraja adalah adipati penguasa tertinggi pertama Sumenep. Sejarah terus berjalan dan adipati atau raja berganti sampai berubah menjadi bupati yang dipilih langsung oleh warga Sumenep.  Sumenep juga memiliki 126 pulau, yang 48 diantaranya berpenghuni, sementara sisanya belum berpenghuni.

Cagar Budaya di Sumenep

Nah berbicara tentang cagar budaya, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Sumenep, bapak Tajul Arifin dalam sebuah kesempatan menyebutkan bahwa cagar budaya merupakan warisan budaya yang bersifat kebendaan. Warisan budaya tersebut perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan. Tapi suatu benda atau obyek disebut cagar budaya harus  melalui proses penetapan.

Bapak Tajul Arifin

Pak Tajul juga menambahkan, proses penetapan terhadap suatu obyek cagar budaya dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota setempat berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya  tingkat kabupaten/kota. Jadi gak sembarangan juga ya gaes…Tim Ahlinya pun terdiri dari berbagai elemen, diantaranya ada ahli sejarah, ahli budaya, ahli bahasa, arsitekur, dll.

Cagar Budaya sendiri ada beberapa macam, yaitu :

  • benda cagar budaya
  • bangunan cagar budaya
  • struktur cagar budaya
  •  situs cagar budaya
  •  dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air

Sumenep sebagai wilayah bekas kerajaan (tapi fungsinya sebagai kadipaten, tidak seperti kerajaan di Surakarta, Yogyakarta, dsb) memiliki banyak sekali peninggalan sejarah yang beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Beberapa obyek yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya Sumenep, 3 diantaranya terletak di wilayah kecamatan kota, yaitu:

  • Museum Keraton Sumenep
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Asta Tinggi

Sementara ratusan obyek lainnya yang tersebar hingga di wilayah kepulauan, kata Pak Tajul masih melalui proses penelitian sebelum nantinya akan ditetapkan sebagai cagar budaya.

Ketiga obyek cagar budaya ini mudah sekali untuk diakses. Karenanya saya pun beberapa kali mengunjungi ketiga tempat ini, selain memang untuk beribadah (di Masjid Jamik), juga untuk berwisata sejarah (bersama anak-anak atau mengantarkan wisatawan).

Keraton Sumenep

Museum Keraton Sumenep

Keraton adalah salah satu peninggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah kabupaten Sumenep (melalui SK Bupati tentang Penetapan Komplek Keraton Sumenep sebagai Situs Cagar Budaya pada tahun 2017). Sebagai bekas kadipaten, keraton Sumenep sempat berpindah-pindah  dan terakhir bertempat di Jl. Dr. Sutomo kelurahan Pajagalan kecamatan Kota Sumenep. Keraton ini berupa komplek yang lengkap terdiri dari perkantoran, pendopo, taman sari, dll.

Keraton yang selesai dibangun pada tahun 1700 an ini, sekarang menjadi museum dan salah satu destinasi wisata sejarah populer di Sumenep. Untuk bisa melihat koleksi di museum ini cukup membayar Rp. 3000,- per orang.

Ratusan  koleksi bersejarah ada di museum ini. Mulai dari kursi-kursi para raja, cermin, lemari, tempat tidur, alas kaki, perabot dapur, kereta kencana, arca, senjata, guci dan keramik, sampai tulang ikan paus juga ada.

Luas bangunan yang digunakan untuk museum sekitar 2.000 m². Pengunjung bisa melihat koleksi museum yang tersebar di 3 bagian utama bangunan keraton.  Bagian pertama merupakan bekas tempat penyimpanan kendaraan atau garasi. Tempat ini menjadi pintu masuk sekaligus loket pembayaran tiket museum. Di ruang ini kita bisa melihat siapa saja yang pernah memimpin kabupaten Sumenep.

Selain itu ada juga duplikat kereta kencana hadiah dari pemerintahan Belanda pada jaman kepemimpinan Sultan Abdurahman Saleh (1812-1854). Lambang kerajaan Sumenep juga bisa kita lihat di bangunan ini, yang kemudian dijadikan lambang kabupaten Sumenep.

Untuk menuju ke bagian berikutnya..kita harus menyeberang jalan lalu masuk ke halaman keraton yang terdapat pendopo di dalamnya. Museum berada di sisi barat pendopo. Gedung tersebut bernama Gedung Koneng yang merupakan tempat raja menjalankan aktivitas pemerintahan. Bagian belakang kantor ini ada sedikit halaman berumput tempat arca peninggalan kerajaan Majapahit disimpan. Lalu bergeser sedikit ke arah samping, pengunjung akan masuk ke Keraton Bindara Saod. Bangunan ini awalnya menjadi tempat Bindara Saod (salah satu raja Sumenep)  melakukan meditasi. Karenanya gedung ini juga disebut sebagai panyeppen (tempat menyepi).

Selain 3 gedung yang menjadi bagian utama museum, keraton Sumenep juga memiliki beberapa bagian bangunan yang bentuknya masih asli. Bangunan tersebut diantaranya :

  • Keraton Panembahan Somala, merupakan bangunan inti yang sekarang dijadikan rumah dinas bupati. Letaknya di bagian utara komplek museum.
Saya di Mandiyoso
  • Mandiyoso, ini adalah bagian koridor penghubung antara pendopo dengan rumah dinas bupati. Panjangnya sekitar 25 meter dipenuhi dengan ornament khas keraton, seperti guci dan lampu gantung yang antik.
Aktivitas warga di depan Gedong Negeri
  • Gedong Negeri, berada di bagian depan keraton bersebarangan dengan ruang museum begian pertama. Gedung ini awalnya merupakan kantor pemerintahan Belanda di Sumenep. Tapi sekarang difungsikan sebagai Museum Pusaka dan Rumah Spa. Selain bisa melihat koleksi pusaka (keris, tombak, dll) kita juga bisa mencoba perawatan ala puteri keraton jaman dahulu di gedung ini.
Pendopo Agung
  • Pendopo Agung, berupa bangunan tanpa dinding yang tinggi sehingga terlihat jelas bagian dalamnya yang berupa tempat pertemuan. Sampai sekarang pendopo ini masih aktif digunakan untuk berbagai acara resmi pemerintahan.
Taman Sare
  • Taman Sare atau Taman Sari, merupakan tempat pemandian puteri keraton. Di bagian ini kita bisa bersantai sambil melihat ikan yang memang sudah sejak lama menghuni kolam pemandian. Air berasal dari sumber air di kolam tersebut yang terus menerus mengalir sampai sekarang.  Ada 3 pintu masuk menuju kolam yang masing-masing pintu mempunyai makna berbeda.
Saya di depan Labang Mesem
  • Labang Mesem, dalam bahasa Indonesia berarti pintu tersenyum. Pada bagian gerbang menuju atau keluar keraton (sisi dalam) ini terdapat ornamen orang yang tersenyum. Harapannya orang yang melintasi gerbang tersebut akan selalu tersenyum dan merupakan symbol keramahan orang Sumenep.

Masjid Jamik Sumenep

Masjid Jamik Sumenep

Masjid Jamik Sumenep selain sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah kabupaten Sumenep juga telah ditetapkan oleh Kemendikbud. Masjid ini berada tak jauh dari kompleks Keraton Sumenep. Berjalan kaki  5 menit ke arah barat keraton, melintasi alun-alun, sampailah ke Masjid Jamik.

 Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1787 M di masa kepemimpinan Panembahan Somala. Arsitektur masjid bernuansa Tionghoa, Eropa, Arab, dan Madura. Tak heran kalau desainnya mirip dengan keraton, karena yang mendesain orang yang sama, yaitu Louw Phia Ngo warga Sumenep keturunan Tionghoa.

Masjid ini sampai sekarang masih aktif digunakan dan bangunan utama (bagian dalam pagar) tidak ada perubahan bentuk sama sekali. Renovasi hanya dilakukan di bagian halaman luar agar lebih nyaman untuk digunakan jemaah saat sholat Ied (Iedul Fitri dan Iedul Adha) dan untuk area parkir kendaraan wisatawan. Karena biasanya wisatawan religi datang ke Sumenep menggunakan bis-bis besar.

Bagian dalam gerbang Masjid Jamik Sumenep

Berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar, masjid yang termasuk 10 masjid tertua di Indonesia ini mempunyai  bangunan utama  dengan 13 soko guru (tiang penyangga utama berukuran besar). Bagian gerbang masjid menyerupai benteng dengan bagian tengah tertinggi 15 meter dan lebar 4 meter.  Gerbang dibuat lebar karena ada beberapa fungsi khusus pada jamannya, yaitu sebagai ruang tahanan  dan ruang penyimpanan.

Asta Tinggi

Asta Tinggi

Terletak di ketinggian di desa Kebonagung kecamatan kota Sumenep.  Sesuai namanya, Asta yang berarti makam dan Tinggi berarti di ketinggian, untuk menuju ke kompleks ini jalannya menanjak. Meski bangunan utama Asta Tinggi ada 2, makam raja-raja dan keluarganya tersebar tidak hanya di area bangunan tersebut.  

Makam para raja ini sudah ada sejak abad 16 M. Baru dibangun sekitar abad 17 dan selesai setelah 3 generasi mulai Panembahan Somala, Sultan Abdurahman Pakunataningrat, dan Panemabahan Natakusuma II. Komplek makam dikelilingi tembok yang kokoh terbuat dari batu kapur.  Luas areal komplek sekitar 112 m x 109 m. Beberapa raja yang dimakamkan di Asta Tinggi diantaranya Bindara Saod, Penambahan Natakusuma I, Sultan Abdur Rahman, dll.

Bagian Barat Asta Tinggi

Dengan perpaduan nuansa arsitektur Cina, Eropa, Jawa dan Madura, Asta Tinggi  menjadi salah satu obyek cagar budaya yang setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan domestic.

Merawat Cagar Budaya Sumenep

Saya sebagai warga Sumenep merasa bangga masih bisa melihat jejak keraton di tempat saya tinggal. Lebih bangga lagi karena Keraton Sumenep merupakan satu-satunya wujud keraton yang ada di Jawa Timur. Hal ini juga lah yang menjadikan salah satu alasan Sumenep menjadi tuan rumah Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asean tahun 2018 lalu.

Obyek cagar budaya yang bisa kita nikmati sekarang, tidak lepas dari upaya perawatan terhadap obyek tersebut. Begitu pula agar anak cucu kita di masa mendatang bisa menikmati juga obyek cagar budaya ini, maka perlu dilakukan perawatan yang lebih baik lagi.

Seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, perawatan merupakan bagian dari upaya pelindungan cagar budaya. Perawatan secara rutin dan berkelanjutan akan menghambat kecenderungan  dan proses kerusakan objek.

Perlindungan terhadap cagar budaya dilakukan melalui 3 hal, yaitu :

  • Perlindungan , meliputi kegiatan penyelamatan, pengamanan, zonasi,pemeliharaan, dan pemugaran.
  • Pengembangan, meliputi penelitian,revitalisasi, dan adaptasi
  • Pemanfaatan, untuk kepentingan agama, social, pendidikan, iptek, kebudayaan, dan pariwisata.

Tapi ya meskipun pemerintah sudah punya aturan dan perangkat sendiri untuk merawat cagar budaya, bukan berarti kita sebagai masyarakat awam penikmat cagar budaya tak perlu ikut berperan. Emang bisa kita ikut menjaga kelestarian cagar budaya?

Bisa banget donk… Setidaknya sebagai pengunjung tempat-tempat obyek cagar budaya berada kita bisa menjaga sikap terhadap obyek tersebut. Misalnya di museum kan banyak tertulis peringatan untuk tidak menduduki koleksi yang berupa kursi. Yuklah dipatuhi…Karena duduk di kursi tersebut bisa merusak mengingat obyek tersebut sudah berusia ratusan tahun. beberapa benda bahkan tidak boleh disentuh. Bukan karena mistis ya…tapi karena sentuhan tangan manusia pada obyek cagar budaya bisa menyebabkan perubahan bentuk atau senyawa penyusun obyek tersebut. Sayang kan …

Secara berkala saya juga mengajak anak-anak ke obyek cagar budaya yang ada di sekitar lingkungan kami tinggal. Kebetulan anak-anak menyukai kunjungan ke tempat-tempat bersejarah seperti Keraton Sumenep dan Masjid Jamik. Apalagi ada cerita-cerita ala kerajaannya..waahh antusias banget.

Saya pun punya keyakinan, cagar budaya di Sumenep akan terus berkembang dan terawat. Karena meskipun belum semuanya, setidaknya sebagian masyarakat Sumenep menyadari keberadaan cagar budaya di Sumenep memberikan manfaat dari berbagai aspek, termasuk ekonomi.

Jadi…tidak ada pilihan Cagar Budaya Indonesia rawat atau musnah ya. Yang ada hanya 1 kata : RAWAT!

Sumber Informasi :

  • Hasil Wawancara
  • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
  • http://situsbudaya.id
  • http://sumenepkab.go.id

Sumber Gambar : dokumentasi pribadi

35 thoughts on “Mengenal Cagar Budaya Indonesia yang Berada di Sumenep”

  1. Wah, artikel ini bertabur warna kuning, heheheh.. Bangunannya kuning, yang bikin artikelnya juga pake baju kuning, hehehehe. Bangunan Masjid Jamiknya nya bagus banget dan penuh sejarah, nilai seninya tinggi sekali, perlu dirawat ini agar tidak punah.

  2. Kapan2 ajak aku halan2 ke sana ya mba
    Millenials dan kita semua wajib banget concern akan cagar budaya.
    sama2 menjaga dan melestarikan.
    ini wujud kebanggaan kita semua sebagai warga yg baik, ya kan?

  3. aku seharian ini jadi belajar sejarah nih, mantengin banyak di timeline aku seliweran tulisan tentang cagar budaya. obyek cagar budaya yang ada di sekitar lingkungan kami tinggal aja di TANGERANG belum semua didatangi.

    Anak-anak juga suka jalan-jalan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah jadi dianggap main dan kulineran juga

  4. Wah…Sumenep punya banyak cagar budaya yang keren dan cocok dijadikan destinasi wisata sejarah, apalagi nama Sumenep sejak dahulu terkenal dalam sejarah terutama pas perang kemerdekaan melawan penjajah. Mudah-mudahan cagar budaya-nya tetap terjaga kelestariannya dan menjadi media belajar untuk generasi zaman now.

  5. Masyaa Allah bagus semua cagar budaya di Sumenep. Murah pula kalau mau masuk ke musium. Cuma bayar 3.000. Aku baru sekali ke Sumenep tapi belum smepat keliling. Cuma sempat makan di menu tradisonal di Rumah Makan Kartini saja. Semoga suatau saat bisa ke Sumenep lagi. Pengen coba rumah spa ala putri keraton.

  6. Ak termasuk orang yang bisa dibilang jarang banget wisata ke cagar budaya.. Karena nggak semua daerah kayaknya punya cagar budaya yang harus dilestarikan gitu kan..

  7. Suka dengan bangunan masjid jamiknya yang cerah. Ternyata Sumenep dahulu dipimpin seorang Adipati ya. Namanya Arya Wiraraja kayak nama orang Sunda.

  8. Wah aku belum pernah main ke Sumenep nih mbak. Ternyata banyak ya cagar budayanya dan terawat. Jadi seneng liat foto-foto cagar budaya yang mbak sajikan di artikel nih.

  9. mbak…saya lihat2 masjid jamik sumenep bagian depannya sama dengan Labang Mesem ya. warnanya pun kuning2 begitu. apa memang sengaja sebagai khas keramahan yg dimaksud

  10. Aku penasaran mbak. Perawatan seperti putri keraton jaman dulu seperti apa heeeehe
    Ternyata Sumenep ada banyak cagar budaya yang tersimpan ya mbak 😍😍😍
    Jasmerah dah heheee

  11. Aku tu penasaran sama Kerajaan Sumenep dari dulu, soalnya karakteristik org dari Sumenep konon katanya agak beda sama karakteristik org Madura pd umumnya. Kebetulan suami sepupuku org Sumenep hehe. Tapi aku blm pernah nginjek Sumenep. Ternyata keratonnya msh difungsikan ya mbak.

  12. Aku tertarik ama Sumenep ini karena Arya Wiraraja, salah satu tokoh sejarah favoritku karena kemampuan inteletual dan strateginya. Makanya aku masih suka penasaran, di Sumenep sampai sekarang masih ada petilasannya arya wiraraja nggak mbak? soalnya kan kalau yang kelihatan sekarang , yang masih ada dan terawat cagar budaya dari era kerajaan baru sementara arya wiraraja sendiri hidup di era akhir kerajaan singasari sampai awal majapahit.

  13. Warnanya dominan kuning ya..
    Aku baru pernah ke masjid jamik aja..
    Emang sumenep terkenal dgn warisan budaya kraton sumenep ya kak..
    Makanya masih banyak bangunan bersejarah di sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *